Kamis, 20 Januari 2011

"Ma..gendong..." wah gimana nih?

   Saat si kecil sudah bisa berjalan sendiri, seringkali dia malah tidak mau melakukannya saat kita ingin dia melakukannya. Sindrom 'gendong ma' memang kadang menjengkelkan dan membebani fisik kita.Terlebih pada kegiatan di luar rumag, entah itu sekedar jalan-jalan, tamasya atau berbelanja. Hal ini karena si kecil sudah terlalu berat untuk digendong dalam waktu lama. Kemanjaan si kecil yang minta digendong saat kita sedang mendorong keranjang belanjaan sementara tangan yang satu menggendong dan menahannya tentu sangat melelahkan, dan pinggang akan terasa pegal nantinya. Benar-benar terasa menyiksa.
   Ketika si kecil minta digendong,kita sebagai orangtua dihadapkan pada dilema.Bila menggendongnya, resiko lain akan muncul, membawa si kecil di sepanjang kegiatan saat itu, tak peduli betapa penat dan capeknya kita. Bila menurunkannya, kemungkinan akan menimbulkan rengekan yang lebih keras dari sebelumnya, hingga kita akan 'terpaksa' menggendongnya untuk mendiamkannya, sehingga si kecil akan membuat preseden di waktu-waktu berikutnya bahwa dia bisa minta gendong kapan saja dia ingin.
     Dari sisi anank sendiri, berjalan sebenarnya merupakan kebanggaan, setelah sekian lama hidup dalam boks bayi, kereta dorong dan lengan orang tua.Namun kebanggaan itu memudar ketika berjalan menjadi harapan, keharusan bahkan tuntutan baginya, ditambah sikap negatif dari dirinya maka anak lalu memberi respons' tekanan' pada orang tuanya.

   Jalan tengah untuk menyikapi hal ini, bisa dilakukan trik-trik berikut;
1. Jadikan  berjalan sebagai rekreasi
Coba jadikan berjalan sebagai sebuah permainan. Misalnya kita katakan padanya," Yuk coba, bisa nggak kita melewati semua lubang yang ada di trotoar," atau " Yuk kita lihat, ada berapa burung di atas sana," atau bisa juga acara berjalan dibarengi dengan menyanyikan lagu atau menunjuk apa saja yang menarik di sepanjang jalan. Ini akan bisa mengalihkan perhatian si kecil dari 'tugas'  berjalannya itu.

2. Jangan dilarang bila minta berhenti
Jangan memintanya berjalan sementara Anda sendiri terburu-buru. Sediakan tambahan waktu jika hendak bepergian bersamanya. Mungkin dia akan berhenti untuk melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, atau berhenti dulu untuk minum karena haus atau lainnya.

3. Jangan memaksanya berjalan cepat
Ukuran kakinya akan membuat langkah si kecil tak bisa menyamai langkah kita. Dia memerlukan langkah yang lebih banyak untuk mencapai suatu tempat dibandingkan orang tuanya. Dan dia juga akan lebih cepat lelah.Pikirkan bahwa dia bukan atlet jalan cepat dan jangan berjalan terlalu jauh darinya. Siapkan rencana cadangan seperti membawa kereta dorong, naik kendaraan atau mempersingkat perjalanan.

4. Hindari mengomel
Jangan mengomel atau marah bila akhirnya si kecil mogok berjalan.Jangan mencobanya untuk meminta berjalan lagi atau Anda akan segera tahu bagaimana gigihnya si kecil bertahan.

5. Rendahkan tubuh Anda
Seringkali si kecil merasa frustasi karena semua orang di sekelilingnya terlihat begitu tinggi.Jadi, sering-seringlah berhenti dan rendahkan tubuh Anda sehingga sama tinggi dengan si kecil. Misalnya saat berhenti di depan toko, lampu merah atau saat memberi minum.

6. Tunjuk dia sebagai asisten
Anak-anak batita senang menjadi 'pembantu'. Saat hendak ke pasar, mintalah dia membawa daftar belanjaan, setelah Anda membuat salinannya. Selesai belanja, mintalah dia membawa barang belanjaan.Beri bawaan yang ringan dan tidak mudah pecah. Tekankan padanya betapa pentingnya perannya," Wah, kalau Adik tidak ikut siapa yang akan membantu Mama membawa barang belanjaan?"

7. Beri pujian untuk usahanya
Meski misalnya dia hanya berjalan sebentar, berilah dia pujian.
"Wah, kamu hebat, bisa berjalan dari sana sampai ke sini," bandingkan dengan bayi yang masih dalam gendongan dan tidak dapat berjalan sendiri.

8. Jangan kritik kegagalannya
Jangan menyebutnya sebagai 'bayi' bila akhirnya dia minta digendong atau didudukkan di kereta belanja. Atau jangan pula membuatnya merasa iri dengan mengatakan " Mama kan sedang menggendong adik, kasihan kan?"

9. Buat perjanjian
Jika Anda berdua masih jauh dari rumah sementara tidak ada kendaraan atau angkutan lainnya cobalah bernegosiasi," Putera jalan dulu sampai lewat pintu mal ini ya, nanti gantian Mama yang gendong. Pastikan jarak yang Anda minta itu spesifik dan jelas bagi si kecil, jangan misalnya ," Sebentar lagi ya Sayang." Jika dia berjalan lagi beri dia pujian.Teruskan perjanjian hingga Anda sampai di rumah.

10. Jangan menggendong terlalu lama
Apakah si kecil berat atau ringan, turunkan dia setelah 1-2 menit.Lakukan ini meski dia akan memprotesnya.Bujuk dia untuk berjalan sampai jarak tertentu, nanti Anda akan menggendongnya lagi. Secara bertahap panjangkan waktu berjalnnya dan kurangi waktu gendongnya.Berikan gangguan saat dia berjalan seprti menggelitiknya, bisa juga dengan menunjukkan sesuatu yang menarik.Dengan cara ini,keinginan untuk digendong akan turun untuk sementara waktu.

11. Ingatkan tak ada gendong
Sebelum bepergian bersamanya, ingatkan bahwa Anda tidak akan menggendongnya meski nanti dia minta gendong. Si kecil nanti akan mengetes aturan Anda itu. Tetapi jika Anda bertahan dan mengingatkan terus aturan itu, lama-lama sindrom minta gendong akan berkurang.

12. Beri contoh nyata
Jika semua orang dalam keluarga banyak berjalan, teman-temannya juga berjalan si kecil juga akan suka berjalan. Apalagi jika Anda tidak selalu mengkritiknya saat ia enggan berjalan


Sumber : Seri Anak Permata Hati 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar